Selamat Siang...
Berbagi cerita cocok dengan siang ini waktunya makan saing..
kali ini kita akan share tentang Kuliner lumayan buat rekomen saat perut kita bernayanyi
bagaimanakah kenikmatan yang akan digambarkan dalam cerita ini,tetap di Opera Bloger..ya eh...
Gudeg siapa yang tak kenal gudeg..munkin ade-adek yang masih di tingkat SD bisa jadi belom kenal
Ada beberapa julukan yang melekat pada Yogyakarta.
Salah satunya adalah Kota Gudeg, masakan manis yang legit. Makanan khas
Yogyakarta ini melekat sebagai ikon kuliner, tak beda, misalnya, dengan
Pempek Palembang ataupun Sate Madura,Maranggi di Parahiyangan ato Pizza khas kota Roma..hehe
Sajian yang berbahan dasar
nangka muda dan santan ini begitu familiar, bahkan rasanya tidak
lengkap jika orang berkunjung ke Yogyakarta tanpa mencicipi masakan satu
ini...
aku aja yang cuma main ke Purworejo tetep icip2 makanan gudeg
Begitu familiarnya gudeg, sehingga rasa-rasanya siapapun
bisa menemukan gudeg di setiap sudut Yogyakarta, mulai dari kelas kaki
lima sampai ke restoran dan rumah makan
mewah. Mulai dari sentra gudeg di Wijilan hingga di pelosok-pelosok daerah di Yogyakarta.
Ketua
Indonesia Chef Association (ICA) Jateng-DIY, Fajar Subeni, mengakui
bahwa Yogyakarta memang identik dengan rasa manis. Namun, seiring
perkembangannya, kuliner Yogyakarta kini tak melulu menyuguhkan
masakan-masakan manis saja. Para pelaku kuliner mulai melakukan
pengembangan dan memodifikasi masakan demi menyesuaikan dengan selera
pasar.
"Makanan di Yogya kini tidak selalu manis tetapi tetap
tidak lepas dari ciri khas makanan itu sendiri. Bahkan gudeg Yogya tetap
manis, meskipun untuk mengikuti selera
pasar, para pelaku kuliner
mulai menampilkan nuansa gurih dan pedas dari kreceknya," ungkap Chef
Beni, sapaan akrab Fajar Subeni, mencontohkan Gudeg Mercon di daerah
Kranggan, sekitar 10 menit waktu perjalanan dari Tugu Yogyakarta.
Pada
dasarnya, gudeg terbagi menjadi tiga varian, yakni gudeg basah, gudeg
kering, dan gudeg manggar. Gudeg basah disajikan dengan kuah santan
nyemek yang gurih. Gudeg Barek, Gudeg Batas Kota, ataupun gudeg yang
dijual di pasar-pasar tradisional merupakan tipe gudeg basah yang
biasanya dicari warga sebagai menu sarapan.
Namun, bagi Anda yang
tertarik untuk menjadikan gudeg sebagai buah tangan, sebaiknya pilih
varian gudeg kering di Sentra Gudeg Wijilan, sebelah selatan Plengkung
Tarunasura Keraton Yogyakarta (Plengkung Wijilan).
Gudeg
jenis ini dimasak lebih lama hingga kuahnya mengering dan warnanya
lebih kecokelatan sehingga bisa bertahan 24 jam, dan rasanya pun lebih
manis. Biasanya penjual mengemasnya dalam kardus, besek (kardus dari
anyaman bambu) atau kendil tanah liat.
Ada lagi varian gudeg
Manggar. Jika umumnya gudeg berbahan dasar nangka muda, maka gudeg jenis
ini berbahan dasar manggar alias bunga kelapa. Namun, karena
keterbatasan bahan dasar, gudeg manggar agak sulit dijumpai
dibandingkan dua jenis gudeg lain...yang ini yang belom pernah icip2....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar