Penggunaan kata "Ana, Antum dan Syukron"
Assalamu'alaikum warahmatullohi wabarokhatuh.....
semoga setelah membaca kilasan ini kita bisa lebih bijak dalam berdialog....
agar terhindar dari kesalahan,ingat pesan Rosululloh pada akhir artikel dibawah ini,
Kosakata Harokah: Ana, Antum dan Syukron
========================================
“Ana”, bukan nama orang, artinya adalah “saya” atau “aku”. Kata sapaan
dalam bahasa Arab ini banyak digunakan di kalangan pesantren atau
aktivis Islam (harokah). Sementara orang Betawi membahasakannya “ane”,
sebuah sapaan yang halus daripada “gue”. Di kali lain, digunakan juga
“aye”. Biasanya digunakan untuk memberikan penghormatan kepada teman
bicara atau kepada orang yang lebih dihormati atau lebih tua.
Nah, soal “ana” ini, salah seorang kawan saya, seorang Muslimah
berjilbab yang aktivis Rohani Islam, (Rohis) sewaktu SMA kerap
membahasakan diri sebagai “ana”.
“Ada Nurul tidak?” tanya saya kepada rekan sekelasnya. Saat itu saya hendak mengembalikan buku Fisika kepada kawan saya itu.
Anehnya, rekan sekelasnya itu tampak kebingungan. “Nurul? Yang mana?”
“Nurul Fadhliyah, yang pakai jilbab,” saya merinci deskripsi sang
kawan. Sang kawan memang satu-satunya yang berjilbab di kelasnya. Kami
berbeda kelas di jurusan A1 (Fisika).
Baru jelas rupanya. “O, si Ana! Itu ada di kelas.”
Rupanya nama “Ana” lebih populer daripada nama aslinya. Sampai sekarang
sang kawan masih dipanggil “Ana”. Atau, sebagian cukup berkompromi,
“Nurul Ana”.
Nah, nasib “antum” tak jauh beda. FYI, “antum”
adalah sapaan halus untuk “kamu” atau “Anda”. Orang Betawi memakai
“ente”, dari kata “anta” yakni orang kedua tunggal. Sementara “antum”
adalah untuk orang kedua jamak. Jamak (bentuk plural) dalam pengertian
bahasa Arab adalah lebih dari dua orang. Agak berbeda dengan bahasa
Indonesia atau Inggris yang memahami jamak sebagai lebih dari satu
orang.
“Antum” sering digunakan untuk sapaan halus dan akrab.
Analoginya, sama seperti kebiasaan orang Indonesia menyebut “kami”
sebagai pengganti “saya” — meskipun sang pembicara hanya satu orang —
agar terdengar lebih sopan atau halus.
Sewaktu ramai kasus
penangkapan tersangka teroris Muhammad Jibril (pemimpin redaksi situs
arrahmah.com), ada wawancara live via telepon di petang hari antara
presenter salah satu TV swasta dan si tersangka pascapengumuman polisi
bahwa Muhammad Jibril masuk DPO (Daftar Pencarian Orang) yang
dikeluarkan Polri.
Sepanjang wawancara, sang presenter
ber-”antum” ria dengan M. Jibriel, seakan mereka kawan lama dalam
pergerakan Islam. Barangkali maksudnya agar lebih akrab dan ada
chemistry dengan yang diwawancarai — yang memang banyak menggunakan
istilah-istilah khos seperti antum, harokah atau ikhwan.
“Gimana perasaan antum?” dsb…Demikianlah wawancara tersebut berlangsung.
Hingga, saat menutup wawancara, si presenter pun mengatakan,”Terima kasih antum.”
Ah, serasa “antum” itu nama orang saja…
Sementara di sebuah milis, seorang kawan berbagi cerita mengenai
pengalaman rekannya yang menerima sms tentang sebuah kabar demonstrasi.
Di ujung sms, si pengirim berterima kasih dengan ucapan “syukron”.
“Syukron” sendiri adalah ucapan terima kasih yang umum. Bentuk yang
lebih halus — karena berisi doa — adalah “jazakallah” (ditujukan kepada
lelaki) atau “jazakillah” (ditujukan kepada perempuan) atau
“jazakumullah” (ditujukan kepada banyak orang) yang artinya “semoga
Allah yang membalas (kebaikanmu).”
Lebih lengkapnya,
jazakallah khoirol jaza’, semoga Allah membalas (kebaikanmu) dengan
sebaik-baiknya balasan, atau cukup jazakallah khoir.
Back to
laptop, si wartawati yang tertarik pada kabar itu ingin
menindaklanjutinya. Ia pun menelpon nomor si pengirim dan membuka
percakapan dengan, “Pak Syukron, saya dari….
Kesimpulannya, Kanjeng Nabi Muhammad benar 100 % ketika berpesan,”Berbicaralah kepada manusia sesuai dengan bahasa kaumnya.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar